Buka Setiap Hari 09.00—21.00 WIB +62 859-5454-2123
Lihat Lokasi
Tentang Kami

Sejarah Sekar Rasa

Perjalanan panjang dari dapur rumah keluarga Widjaja hingga menjadi rumah makan keluarga yang dipercaya banyak generasi.

Awal Mula

Dari Dapur Rumah ke Rumah Makan

Tahun 2009, Ibu Sekar Widjaja hanya bermaksud memasak untuk acara arisan keluarga besar di rumahnya. Nasi liwet ayam kampung buatannya begitu digemari, hingga tetangga dan kerabat mulai memesan untuk acara mereka sendiri. Dari situ, keluarga memutuskan membuka warung kecil berkapasitas 20 kursi di halaman rumah.

Dalam 3 tahun pertama, Sekar Rasa hanya buka di akhir pekan karena masih dikerjakan bersama-sama oleh anggota keluarga sambil menjalankan pekerjaan utama masing-masing.

Ilustrasi ruang makan utama Sekar Rasa
Berkembang Bersama Keluarga

Tumbuh karena Kepercayaan Pelanggan

Sejak 2015, Sekar Rasa pindah ke bangunan yang lebih luas dengan ruang makan keluarga, area lesehan, dan sudut bermain anak — karena banyak pelanggan datang membawa 3 generasi sekaligus: kakek-nenek, orang tua, dan anak-anak. Kami merancang setiap sudut ruangan agar semua generasi merasa nyaman.

Kini, resep-resep yang dulu hanya dimasak untuk keluarga sendiri telah menjadi menu yang dinikmati ratusan keluarga setiap minggunya, tanpa mengubah cara memasaknya sedikit pun.

Ilustrasi sudut bermain anak Sekar Rasa
Filosofi Kami

Masakan Rumahan, Bukan Sekadar Menu

Kami sengaja tidak mengejar tren makanan kekinian. Bumbu dihaluskan manual dengan cobek, santan diperas segar setiap pagi, dan bahan dipilih langsung dari pemasok langganan yang sudah bekerja sama sejak awal berdiri. Bagi kami, "rumahan" berarti sabar dalam proses — bukan cepat dalam penyajian.

Nilai ini yang ingin kami wariskan ke generasi Sekar Rasa berikutnya: rasa boleh terus berkembang, tapi kejujuran dalam memasak tidak boleh berubah.

Ilustrasi dapur terbuka tempat memasak Sekar Rasa
0Tahun Berdiri
0Cabang Keluarga Terlibat
0Keluarga Datang per Minggu