Sejarah Sekar Rasa
Perjalanan panjang dari dapur rumah keluarga Widjaja hingga menjadi rumah makan keluarga yang dipercaya banyak generasi.
Dari Dapur Rumah ke Rumah Makan
Tahun 2009, Ibu Sekar Widjaja hanya bermaksud memasak untuk acara arisan keluarga besar di rumahnya. Nasi liwet ayam kampung buatannya begitu digemari, hingga tetangga dan kerabat mulai memesan untuk acara mereka sendiri. Dari situ, keluarga memutuskan membuka warung kecil berkapasitas 20 kursi di halaman rumah.
Dalam 3 tahun pertama, Sekar Rasa hanya buka di akhir pekan karena masih dikerjakan bersama-sama oleh anggota keluarga sambil menjalankan pekerjaan utama masing-masing.
Tumbuh karena Kepercayaan Pelanggan
Sejak 2015, Sekar Rasa pindah ke bangunan yang lebih luas dengan ruang makan keluarga, area lesehan, dan sudut bermain anak — karena banyak pelanggan datang membawa 3 generasi sekaligus: kakek-nenek, orang tua, dan anak-anak. Kami merancang setiap sudut ruangan agar semua generasi merasa nyaman.
Kini, resep-resep yang dulu hanya dimasak untuk keluarga sendiri telah menjadi menu yang dinikmati ratusan keluarga setiap minggunya, tanpa mengubah cara memasaknya sedikit pun.
Masakan Rumahan, Bukan Sekadar Menu
Kami sengaja tidak mengejar tren makanan kekinian. Bumbu dihaluskan manual dengan cobek, santan diperas segar setiap pagi, dan bahan dipilih langsung dari pemasok langganan yang sudah bekerja sama sejak awal berdiri. Bagi kami, "rumahan" berarti sabar dalam proses — bukan cepat dalam penyajian.
Nilai ini yang ingin kami wariskan ke generasi Sekar Rasa berikutnya: rasa boleh terus berkembang, tapi kejujuran dalam memasak tidak boleh berubah.